Sebuah pesan mengabarkanku harapannya terkabul
Kau tentu berbahagia,
tersenyum membayangkan hal yang selanjutnya
akan terjadi dan menjadi kenyataan
Kemudian kau sadar
Ini dunia nyata!
Sudah seharusnya kudapatkan kesempatan ini
dengan usaha keras setahun silam.
Pesannya tertulis:
Hai, apa kabar? Kemudian ucapan terima kasih,
dan terakhir, selamat malam minggu dan
jangan lupa berbahagia, ya.
Saya balas pesan darinya,
Ya, syukurlah...
Dalam hati saya berdiam diri, menutup mata
mengulas cerita yang sama:
Kita punya kesamaan sebelum pesan singkat itu masuk
Kita hidup dalam ketakutan
Takut hal-hal yang buruk itu datang, menjadi nyata.
Maka untuk tidur pun rasanya enggan
Terpaksa kita berusaha agar mata kita tetap terjaga.
Bila kita pejamkan mata
seperti kita terlempar ke dunia yang kelam
datang suatu kenyataan pahit
berada tepat di garis depan di tempat yang teramat jauh
Hanya bertemu segelintir manusia beruntung
Entah bagaimana kau sebut manusia yang hidup di garis depan
Beruntung atau sial, entah mana yang tepat untuk disebut.
Kita biarkan mata ini terus hidup
Tanpa sadar
Muncul kantung hitam di bawah mata kita.
Badan pun sudah kita biasakan bergerak dan aktif
setiap waktu, ketika semua manusia lain tertidur pulas,
beristirahat, dan mendengkur keras.
Insomnia yang terbuat ini sepertinya
sudah kau akhiri, penyakit sudah kau usir
hingga semalam bisa kau tidur nyaman tanpa beban
rasa ketakutan.
Kadang terasa mimpi, tapi ketakutan ini nyata
Jiwa dan raga sudah terlatih hingga luwes untuk berjibaku
jatuh-bangun, berdiri lalu berlari
mengejar sesuatu yang belum pasti.
Saya buka mata, kemudian
saya bersyukur masih dalam keadaan yang dulu
dalam ketakutan, dalam mimpi buruk yang tidak ingin
saya temui dalam tidur.
Tapi daya apa saya punya
untuk mengusir, bersembunyi, atau
memusnahkan mimpi ini?
Inikah jalan saya?
Dalam gelap saya hendak berjalan
tanpa ada penerang, mana bisa
Ku berjalan dan bertahan tak ada teman.
0 komentar:
Posting Komentar