Hari minggu, 13 Juni yang lalu
berkunjung ke malang, kota yang damai dan sejuk.
Terutama Batu-Malang, terletak di dataran tinggi yang asri dan ramah
dalam menyapa para wisatawan.
Batu benar-benar bahagiakan para pengunjung
10 jam terduduk murung dalam gerbong kereta
menuju Malang, Stasiun Kota Baru
Entah, apa yang ada dalam pikiran saat itu
Malang adalah kota impian.
Itu saja.
Tak ada yang lain.
Sebenarnya dalam hati aku ingin mengajaknya
Tapi secepatnya kulenyapkan pikiran itu
"Ini belum saatnya, waktunya tidak tepat! Sia-sia saja".
Kuarahkan pandangan ke seluruh sudut ruangan
Di dalam gerbong kereta begitu senyap
sesak penuh koper, carier dan ransel besar.
Pemiliknya pulas dalam mimpinya masing-masing
Mungkin pasangan suami istri yang rela tidur di atas koran
demi 2 buah hati kecilnya yang sudah terlelap di kursi
sudah sampai di kampung halaman
Disambut oleh Kakek-neneknya yang sudah rindu
ingin mencium dan menggendong cucunya.
Perjalanan malam punya kesan lain
daripada biasanya yang selalu riuh-ramai,
panas terik dan udaranya yang pengap.
Di bawah lampu yang terang
Ini terkesan damai
Lalu ku buka novel yang kusiapkan dari Semarang
Tidak lama membolak-balik tiap halaman yang telah terbaca
tiba-tiba kantuk menyerang ketika dini hari telah lewat
seiringan dengan perjalananku ke Kota Malang
Buku ku tutup, masih terpegang oleh tangan kananku
Ku pejamkan mata yang lelah ini pelan-pelan
tergambar parasnya yang cantik, mengagumkan
dan sedang ku rindu ingin bertemu
Namun sayang tak dapat ku temukan dalam mimpi
sebab buku yang ku pegang terjatuh
Segera kuambil dan kubaca lagi.
Tiba di Jebres Solo
Keretaku berhenti cukup lama
Tidak untuk menunggumu
Akan tetapi membiarkan para eksekutif mendahului
meluncur deras ke arah matahari terbit dengan gagah.
Kemudian perjalanku berlanjut mencoba mengejar
Keretaku dipacu lebih cepat.
Sayang tertinggal sangat jauh,
terlampau jauh rentang jarak yang perlu ditempuh.
0 komentar:
Posting Komentar