Jumat, 04 Maret 2016

Dingin II

Karena hujan,
banyak orang lebih memilih menarik kembali
selimut tebal yang dimilikinya
atau sarung butut peninggalan sang bapak

Hujan mengguyur tiap malam hingga shubuh
Pagi yang diharapkan akan berseri
masih sembunyi di balik awan gelap dan rintik hujan
Seketika itu bapak bangun tiap shubuh datang
badannya sudah rapuh tidak seperti kala muda
Dingin yang dibawa bersama hujan
mulai merambat ke tubuhnya
Mulai dari kaki yang tak terbungkus apa  pun
lalu merambat ke seluruh tubuh

Dingin menyerang
Namun resah dan kalut di kepalanya
membuat semua aliran dingin luruh
dan menguap ke permukaan
Energi yang sangat hebat.

Pikirannya melayang-layang
Haruskah melakukan sesuatu di kebon?
Sekadar datang...
Obat rindu untuk hobi yang tidak pernah
sehari pun dia lupa mengunjunginya
Akankah diam saja di rumah menunggu?
hujan pun pasti akan reda

Sehabis sholat shubuh
bapak tidak menanggalkan baju dan pecinya
bapak membuka pintu dan langsung keluar ke teras rumah
gontai, lesu dan hilang semangat
telinganya sejak terbangun mendengar rintik air hujan
turun membasahi bumi
Ini bukan akhir dari segalanya
Namun, aktifitasnya akan sedikit repot
dan seperti sia-sia
Hasil kerja saat hujan turun adalah sakit
Demam dan dingin menggigil
pada orang yang memaksa terus bekerja

Bukan soal hasil panen yang menjadi prioritas
saat musim hujan menyerang
tapi efesiensi dan efektifitas kerja yang dilakukan.

0 komentar: